Payung Nyarang Udan

Den Ayu Catra adalah seorang pengrajin payung lukis. Selain memiliki keahlian melukis secara turun temurun, Catra juga memiliki kelebihan menggeser hujan seperti Almarhum Bapaknya yang seorang pawang hujan.

Keahlian temurun menggeser hujan belum diyakininya, hingga satu waktu ada pemuda yang yang bernama Mas Pur menaruh hati padanya . Mas Pur meminta bantuan Catra untuk menggeser hujan ke desanya karena masalah krisis air di sawah warga yang memicu keributan dengan Mas Dwi.

Namun untuk bisa meyakini kemampuannya menggeser hujan, Catra harus melawan masa lalunya. Ketika Catra kecil Ia sering di ejek "Anak Dukun" karena profesi Bapaknya sebagai pawang hujan.

Catra berjuangan untuk bisa kembali menyadari bahwa kemampuan yang dimilikinya bisa dimanfaatkan untuk kebaikan. Suatu ketika pergumulan batin itu di mulai melalui keluh kesah Mas Dwi yang meminta pekerjaan darinya padahal Mas Dwi adalah orang yang dulu ikut mengejeknya selain itu Mas Dwi juga meragukan kemampuannya sebagai keturunan yang bisa menjadi pawang hujan. Pergumulan batin membuat pertemuan spiritual dengan Bapaknya yang mengingatkan bahwa nama Catra punya makna penting sebagai payung kebesaran, pengayom dan perlindungan bagi banyak orang dimana manusia hidup itu harus bermanfaat, "urip kui urup" . Lalu mampukah catra mengalahkan masa lalunya demi menolong orang banyak?