Catur dan Sepotong Telur
Bagus adalah ayah muda yang hobbi main catur daripada ngecek isi piring gizi anaknya. Mika, istrinya yang sedang hamil anak kedua, mulai khawatir karena Gita, anak pertama mereka, tidak mengalami pertumbuhan dapi malah penurunan, BB-nya mulai menurun, ditambah lagi setelah konsultasi di posyandu, ternyata ada gejala stunting ringan. Tapi bisa dicegah segera dengan pola makan yang lebih bergizi.
Bagus dan Mika panik. Mereka merasa hidup mereka sudah cukup rumit tanpa harus memikirkan swasembada pangan dan stunting. Harga telur yang terus melambung dan sayur yang makin mahal membuat mereka berpikir bagaimana caranya agar anak tumbuh sehat tanpa khawatir semua harga serba mahal.
Setelah melihat youtube mereka mencoba bertani. Tapi bukan bertani seperti petani profesional. Bagus malah beli ayam, dan Mika berusaha menanam bayam di ember bekas cat. Dengan modal dua ayam petelur dan semangat setengah-setengah, mereka mencoba bertahan hidup dan berharap bisa memberi Mika makanan sehat. Hasilnya tentu saja gagal.
Ditengah keputus asaan, muncul tetangganya yang nyentrik sedkit bawel, Bu Kendar menawarkan diri untuk mengajari cara bertani, dan makanan bergizi untuk anak dari bahan-bahan yang bisa ditemukan di sekitar rumah, seperti daun katuk dan hati ayam. Ia mengajarkan mereka cara ternak ayam dan bahkan mengajarkan mereka bagaimana mengolah telur menjadi makanan bergizi untuk anak.
Anak balita pertama mereka makan telur rebus dan tumis bayam dengan lahap. Mika senyum haru. Ayah pasang papan catur lagi. Tapi kali ini, dia bilang: "Ternyata… strategi catur paling premium itu jagain isi piring buah hati tiap hari."
Bagus dan Mika sadar untuk mencegah stunting, mereka bukan cuma perlu uang lebih, tapi juga pengetahuan dan usaha sendiri.
