Aja Nglalu
Selama ratusan tahun, mitos Pulung Gantung melekat di masyarakat Gunung Kidul. Angka kematian akibat bunuh diri dirata-rata kurang lebih 2 orang per bulannya. Adalah Edi Pramono seorang pelukis asal Desa Tanjung dan Wakidi seorang Ketua Dusun Tanjung, mereka berdua mempunyai visi yang sama yakni melawan sugesti bunuh diri tersebut dengan berbagai hal positif.
Namun masyarakat sering menganggap remeh dan membiarkan mitos Pulung Gantung adalah hal yang lumrah terjadi. Konflik terjadi karena Edi masih dianggap hijau oleh para orang tua di Desa dan mereka meyakini Pulung Gantung adalah suratan takdir.
Edi tak gentar melakukan berbagai pendekatan. Sebagai aktivis pemuda di Desa, dia melakukan strategi dengan mengadakan forum diskusi positif yang membangun pola pikir generasi masyarakat Gunung Kidul yang akan datang. Bahkan Edi memberikan materi secara diam-diam kepada penceramah masjid tentang melawan mitos pulung gantung. Sedangkan Wakidi mendekati para sesepuh di Desa dengan merubah cara pandang Pulung Gantung sebagai isyarat agar lebih mempererat tali persaudaraan. Pendampingan rohani dan sosial diharapkan mampu melawan energi buruk yang timbul karena lemahnya kesadaran masyarakat.
Kegiatan Karang Taruna, gotong royong, pertemuan warga harus dilakukan secara rutin dan terarah melalui agenda kerja untuk menghindari pemikiran negatif. Pola pikir negatif tentang Pulung Gantung dirombak menjadi sebuah pertanda AJA NGLALU.
